Sejak berganti nama dari Peterpan menjadi NOAH dan merilis album berjudul Seperti Seharusnya pada 16 September 2012, hingga 7 Desember 2012 band yang terdiri dari Ariel (vokal), Uki (gitar), Lukman (gitar), David (keyboard), dan Reza (drum) ini berhasil mencapai angka penjualan album CD satu juta copy lebih. Tapi, soal angka penjualan album, NOAH belum bisa mengalahkan Peterpan.
"Banyak hal yang kami syukuri di hari ini, ini adalah salah satu yang ingin kami wujudkan," ujar Ariel dalam jumpa pers di Club O1 fX Plaza, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (19/2/2013).
Menurut Ariel, keberhasilan tersebut penting untuk memacu NOAH terus berkarya. "Sejauh ini sangat puas, ada pijakan pertama di penjualan. Memang, pada awalnya kami enggak menaruh target, tapi di industri harus ada perhitungan target. Ya, harus ada yang dikejar lagi, mudah-mudahan bisa di atas ini, karena kami bukan mengejar materi, tapi ternyata banyak yang bisa menerima karya kami," jelas Ariel.
Namun, angka 1,3 juta copy yang mendatangkan penghargaan multiplatinum bagi mereka itu masih jauh dari angka penjualan album Peterpan yang berjudul Taman Surga (2004), 2,7 juta copy. Ariel dan teman-temannya melihat bahwa tingkat pembajakan dulu belum sedahsyat sekarang.
"Waktu hampir tiga juta copy lebih itu, bajakan belum terlalu banyak. Budaya menikmati musik itu (kini) sudah berubah, dengan (illegal) digital downloading," kata Ariel.
NOAH juga tidak memasalahkan album perdana mereka tersebut diljual dengan cara titip edar lewat jaringan rumah makan cepat saji terkenal dengan menu utama ayam goreng. Menurut mereka, cara itu efektif di tengah pembajakan.
"Menyikapinya dengan penuh kesadaran, bahwa telah banyak perubahan di industri musik ini. Termasuk, yang tadinya penjualan keras (album fisik), sekarang dalam bentuk digital. (Label) independen (indie) juga digerogoti pembajakan, banyak yang collapse. Kami sebagai pelaku industri musik harus menyadarinya dengan kesadaran penuh untuk bertahan di industri musik ini," katanya lagi.
"Kami enggak masalah harus dengan cara seperti ini, supaya orang bisa dapat yang legal. Dengan cara ini lebih mempermudah orang untuk mendapatkan materi musik yang kami tawarkan," lanjutnya.
Ariel dan kawan-kawannya percaya, keberhasilan NOAH saat ini bukan hasil jerih payah mereka berlima saja. "Kerja keras kami hanya beberapa persen. Yang pertama, bukannya sok religius, tapi saya percaya ada campur tangan Yang Maha Kuasa," ucap Ariel. "Kami hanya brand di depan, sementara di belakang kami ada yang bekerja keras untuk mencapai target ini. Jadi, kalau dibilang ini kerja keras kami, ya bukan juga, karena ini kerja keras semua pihak," tekannya.
Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Tuesday, October 29, 2013
Untuk Klip Video Baru, NOAH ke Rumah Cibedug
Band NOAH, yang beranggotakan Ariel (vokal), Uki (gitar), Lukman (gitar), Reza (drum), dan David (keyboard), untuk sementara waktu meninggalkan Jakarta, tetapi kali ini bukan untuk menjalani tur. Mereka pergi ke Cibedug Tengah, Desa Nagrak, Sukaraja, Bogor Utara, Jawa Barat, untuk menjalani shooting klip video lagu "Jika Engkau" dari album Seperti Seharusnya.
Menurut Ariel, tempat itu merupakan pilihan sutradara klip video tersebut, Sim F, sesuai dengan kebutuhan perolehan gambar-gambar untuk klip video itu. "Kalau lokasi kebetulan yang milih sutradara video clip-nya sendiri, Mas Sim, karena memang lokasinya memungkinkan untuk bikin kamera itu still on," kata Ariel di sela shooting klip video tersebut di Rumah Cibedug, Cibedug Tengah, Selasa (9/4/2013).
Selain itu, Sim juga memerlukan interior seperti yang ada di Rumah Cibedug, yang tak ditemukannya di Jakarta. "Interior rumah yang dipakai juga susah dicari, mungkin itu alasan kenapa dibuat di pedesaan," kata Ariel lagi.
Menurut Ariel, tempat itu merupakan pilihan sutradara klip video tersebut, Sim F, sesuai dengan kebutuhan perolehan gambar-gambar untuk klip video itu. "Kalau lokasi kebetulan yang milih sutradara video clip-nya sendiri, Mas Sim, karena memang lokasinya memungkinkan untuk bikin kamera itu still on," kata Ariel di sela shooting klip video tersebut di Rumah Cibedug, Cibedug Tengah, Selasa (9/4/2013).
Selain itu, Sim juga memerlukan interior seperti yang ada di Rumah Cibedug, yang tak ditemukannya di Jakarta. "Interior rumah yang dipakai juga susah dicari, mungkin itu alasan kenapa dibuat di pedesaan," kata Ariel lagi.
NOAH Akan Bikin Konser Mini di Atas Laut
Band NOAH akan menyuguhkan pertunjukan yang unik dalam Festival Teluk Jailolo 2013, yang akan digelar di Teluk Jailolo, Maluku Utara, pada 16-18 Mei mendatang. Ariel (vokal), Uki (gitar), Lukman (gitar), David (keyboard), dan Reza (drum) akan membuat konser mini di atas laut.
Mereka akan menyanyikan 15 lagu di panggung yang didirikan di atas laut. "Pas pertama kali dengar agak kaget, gimana listriknya segala macam. Tapi, mudah-mudahan ini jadi pengalaman seru buat kami, nyanyi backdrop-nya alam," kata Ariel.
Sebagai pelaku seni, Ariel dan kawan-kawan juga merasa bertanggung jawab terhadap pariwisata Indonesia. Mereka ingin agar keindanhan alam Indonesia bisa semakin terkenal lewat Festival Teluk Jailolo.
"Apa pun yang bisa kita kasih dan kita berikan, untuk menjadikan alam Indonesia terkenal di dunia. Kita ingin orang lain tahu bahwa Indonesia tidak cuma Bali tapi masih banyak yang bisa dikunjungi," ucap Ariel.
Mereka akan menyanyikan 15 lagu di panggung yang didirikan di atas laut. "Pas pertama kali dengar agak kaget, gimana listriknya segala macam. Tapi, mudah-mudahan ini jadi pengalaman seru buat kami, nyanyi backdrop-nya alam," kata Ariel.
Sebagai pelaku seni, Ariel dan kawan-kawan juga merasa bertanggung jawab terhadap pariwisata Indonesia. Mereka ingin agar keindanhan alam Indonesia bisa semakin terkenal lewat Festival Teluk Jailolo.
"Apa pun yang bisa kita kasih dan kita berikan, untuk menjadikan alam Indonesia terkenal di dunia. Kita ingin orang lain tahu bahwa Indonesia tidak cuma Bali tapi masih banyak yang bisa dikunjungi," ucap Ariel.
Konser Mini di Ultah ke-75 Idris Sardi
"Kalau saudara-saudara tidak memerhatikan dan duduk di sini, saya tidak mau main," kata Idris Sardi sebelum dirinya memulai konser mininya.
Setelah hadirin duduk dan fokus ke panggung kecil di lantai tiga Fadli Zon Library, Jakarta, Idris pun memanggil Fadli untuk mendampinginya sekaligus bernyanyi.
Fadli, yang dipanggil pun buru-buru mengambil mikrofon. "Wah, saya dikerjain Mas Idris, nanti yang diperhatikan biola Mas Idris saja, jangan suara saya. Mohon maaf kepada teman-teman yang penyanyi beneran, saya berada di sini."
Maka sepasang sahabat itu pun membawakan lagu "Ayah" karya Rinto Harahap. Lagu ini dipilih sebagai pembuka pertunjukan, menurut Idris karena dirinya dan Fadli sama-sama ditinggal pergi ayah mereka saat masih kecil.
Selain itu, masih menurut Idris, lagu pop Indonesia itu ya karya-karya Rinto Harahap, "Untuk pernyataan ini, saya pernah dikritik habis oleh kawan-kawan. Tapi saya tetap kukuh mengatakan bahwa lagu pop Indonesia ya punya Rinto. Lagunya apa adanya dan kata-katanya sederhana."
Penampilan Idris pada Jumat siang (7/6/2013) itu adalah dalam rangka perayaan ulang tahun dirinya yang ke-75 sekaligus peluncuran buku puisi berjudul Dream I Kept.
Tampak hadir kawan-kawan Idris maupun Fadli, seperti pelukis Hardi, Linda Djalil, Johan Untung, Guru Besar dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Prof Bambang Wibawarta, dan lain-lain.
Setelah hadirin duduk dan fokus ke panggung kecil di lantai tiga Fadli Zon Library, Jakarta, Idris pun memanggil Fadli untuk mendampinginya sekaligus bernyanyi.
Fadli, yang dipanggil pun buru-buru mengambil mikrofon. "Wah, saya dikerjain Mas Idris, nanti yang diperhatikan biola Mas Idris saja, jangan suara saya. Mohon maaf kepada teman-teman yang penyanyi beneran, saya berada di sini."
Maka sepasang sahabat itu pun membawakan lagu "Ayah" karya Rinto Harahap. Lagu ini dipilih sebagai pembuka pertunjukan, menurut Idris karena dirinya dan Fadli sama-sama ditinggal pergi ayah mereka saat masih kecil.
Selain itu, masih menurut Idris, lagu pop Indonesia itu ya karya-karya Rinto Harahap, "Untuk pernyataan ini, saya pernah dikritik habis oleh kawan-kawan. Tapi saya tetap kukuh mengatakan bahwa lagu pop Indonesia ya punya Rinto. Lagunya apa adanya dan kata-katanya sederhana."
Penampilan Idris pada Jumat siang (7/6/2013) itu adalah dalam rangka perayaan ulang tahun dirinya yang ke-75 sekaligus peluncuran buku puisi berjudul Dream I Kept.
Tampak hadir kawan-kawan Idris maupun Fadli, seperti pelukis Hardi, Linda Djalil, Johan Untung, Guru Besar dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Prof Bambang Wibawarta, dan lain-lain.
Pesona Biola di "Violination 2"
Biola menjadi instrumen utama menarik dalam pergelaran Violination 2 di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, Kamis (24/10) malam. Didiet atau Sigit Ardityo Kurniawan (27) menempatkan biola dalam kawalan band dengan seksi ritme elektrik standar berupa gitar, bas, keyboard, dan drum.
Dalam biola Didiet "Turkish March" karya Mozart itu berubah menjadi lagu layaknya lagu-lagu dalam pertunjukan band. Didiet mempercepat tempo menjadi sangat cepat atau presto. Komposisi aslinya, untuk piano, menerakan tempo allegretto (lebih lamban dari allegro, tapi lebih cepat dari moderato). Jika diukur dengan metronome, kecepatan "Turkish March" dengan tempo allegretto berkisar 100-128 bpm (beats per minute). Didiet mempercepat menjadi 202 bpm. Efeknya, secara pertunjukan, komposisi itu terkesan demonstratif, "akrobatis". Nyatanya, seusai dimainkan, penonton memberi tepuk tangan riuh.
"Aransemen sengaja kita ubah, atau cara membawakan kita pertimbangkan supaya audiens seneng," kata Didiet yang juga awak dari band Kulkul.
Unsur teknis, termasuk kecepatan, itu menjadi salah satu pesona pertunjukan Violination 2. Oleh Didiet dan kawan-kawan, biola juga ditampilkan dalam karakter lembut dan melankolik lewat komposisi orisinal Didiet "If Only". Pada nomor lain, biola diajak bergerak lincah-lincah rancak dalam balutan fusion lewat "Pork Chops". Ini lagu milik Uzeb, kelompok jazz fusion asal Montreal, Kanada, yang pernah datang ke Jakarta. Penampilan Didiet dalam komposisi ini mengingatkan pada gaya violis Perancis, Didier Lockwood, yang diakui Didiet sebagai inspiratornya.
Tiga jenis suguhan di atas menunjukkan betapa luwesnya biola dalam menjelajah beragam genre musik. "Lewat Violination, saya ingin biola juga bisa menjadi lead instrument (alat musik utama). Ia bisa menjadi gantinya vokal," kata Didiet.
Didiet mengakui, selama ini biola bagi sebagian orang telanjur dipersepsikan hanya sebagai instrumen pendamping atau bintang tamu. Violination membuktikan biola menjadi bintang pertunjukan. Dalam pergelaran kali ini, Didiet mengajak kelompok Violet yang terdiri dari tiga violis: Mia, Ava, dan Dhita. Ia juga menggandeng Andien yang dengan nyaman membawakan "Gemilang". Ini lagu milik Krakatau era akhir 1980-an dengan vokalis Tri Utami. Komplet sudah peran biola di panggung hiburan Violination.
Idris Sardi-Mick Jagger
Biola pernah meramaikan pentas pop musik di Indonesia dari masa ke masa. Pada era 1960-1970-an, Idris Sardi bisa disebut sebagai bintangnya.
Idris Sardi yang bergabung dengan band Eka Sapta—yang antara lain didukung Ireng Maulana, Benny Mustafa, dan Bing Slamet (alm)—meliuk-liukkan keindahan biola dalam lagu pop. Ia antara lain mengiringi Ernie Djohan pada lagu "Hanya Sejenak". Idris Sardi juga banyak membuat musik ilustrasi untuk film sampai-sampai oleh sejumlah media pada zamannya disebut-sebut sebagai "si biola maut".
Era 1970-an, band seperti The Mercy's dan D'lloyd melibatkan biola dalam sejumlah lagu-lagu mereka. Biola bagi mereka masih menjadi instrumen "tamu" dan penggeseknya berstatus pemain tambahan alias additional player. Ada pula band C'Blues dengan Adjie Bandi sebagai violis dan vokalis. Dalam C'Blues, biola cukup berperan, antara lain dalam lagu "Ikhlas". Era 1980 datang Lulu Purwanto lewat kelompok jazz Bhaskara yang sempat manggung di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda.
Era 1990-an gesekan biola Hendri Lamiri masuk ke berbagai lagu. Biola Hendri ada dalam lagu band rock Voodoo lewat lagu "Untuk Dia". Mengalun pula dalam album Klakustik dari KLa yang direkam live di Gedung Kesenian Jakarta tahun 1996. Hendri Lamiri juga mendukung Panbers versi era 1990-2000-an. Ia juga mengisi biola untuk album Chrisye yang digarap Erwin Gutawa. Belakangan muncul violis perempuan, mulai dari Mayllaffayza sampai barisan muda seperti Clarissa Tamara (14) dan Cecilia Young (17).
Biola dengan manisnya pernah memperindah sejumlah lagu pop yang mendunia. Sebut saja antara lain "Dust in the Wind" dari band progresif rock Kansas, asal Negara Bagian Kansas, AS, yang populer pada akhir 1970-an. Permainan biola dari Robby Steinhardt memberi "nyawa" lagu melankolik tersebut.
Pada akhir 1980-an, Mick Jagger di luar Rolling Stones datang dengan "Party Doll". Lagu ini mendapat sentuhan fiddler dari Sean Keane, penggesek asal Dublin yang pernah mendukung band The Chieftains pada era 1960-an. Permainannya sangat unik, mengingatkan gaya bigpipe, alat tiup tradisional Irlandia.
Dari zaman ke zaman biola mengalun di pentas pop. Satu hal dicatat Didiet, audiens kini telah memberikan apresiasi pada keterampilan teknis musisi. Penonton tidak lagi sekadar mencari pesona fisik di panggung.
Dalam biola Didiet "Turkish March" karya Mozart itu berubah menjadi lagu layaknya lagu-lagu dalam pertunjukan band. Didiet mempercepat tempo menjadi sangat cepat atau presto. Komposisi aslinya, untuk piano, menerakan tempo allegretto (lebih lamban dari allegro, tapi lebih cepat dari moderato). Jika diukur dengan metronome, kecepatan "Turkish March" dengan tempo allegretto berkisar 100-128 bpm (beats per minute). Didiet mempercepat menjadi 202 bpm. Efeknya, secara pertunjukan, komposisi itu terkesan demonstratif, "akrobatis". Nyatanya, seusai dimainkan, penonton memberi tepuk tangan riuh.
"Aransemen sengaja kita ubah, atau cara membawakan kita pertimbangkan supaya audiens seneng," kata Didiet yang juga awak dari band Kulkul.
Unsur teknis, termasuk kecepatan, itu menjadi salah satu pesona pertunjukan Violination 2. Oleh Didiet dan kawan-kawan, biola juga ditampilkan dalam karakter lembut dan melankolik lewat komposisi orisinal Didiet "If Only". Pada nomor lain, biola diajak bergerak lincah-lincah rancak dalam balutan fusion lewat "Pork Chops". Ini lagu milik Uzeb, kelompok jazz fusion asal Montreal, Kanada, yang pernah datang ke Jakarta. Penampilan Didiet dalam komposisi ini mengingatkan pada gaya violis Perancis, Didier Lockwood, yang diakui Didiet sebagai inspiratornya.
Tiga jenis suguhan di atas menunjukkan betapa luwesnya biola dalam menjelajah beragam genre musik. "Lewat Violination, saya ingin biola juga bisa menjadi lead instrument (alat musik utama). Ia bisa menjadi gantinya vokal," kata Didiet.
Didiet mengakui, selama ini biola bagi sebagian orang telanjur dipersepsikan hanya sebagai instrumen pendamping atau bintang tamu. Violination membuktikan biola menjadi bintang pertunjukan. Dalam pergelaran kali ini, Didiet mengajak kelompok Violet yang terdiri dari tiga violis: Mia, Ava, dan Dhita. Ia juga menggandeng Andien yang dengan nyaman membawakan "Gemilang". Ini lagu milik Krakatau era akhir 1980-an dengan vokalis Tri Utami. Komplet sudah peran biola di panggung hiburan Violination.
Idris Sardi-Mick Jagger
Biola pernah meramaikan pentas pop musik di Indonesia dari masa ke masa. Pada era 1960-1970-an, Idris Sardi bisa disebut sebagai bintangnya.
Idris Sardi yang bergabung dengan band Eka Sapta—yang antara lain didukung Ireng Maulana, Benny Mustafa, dan Bing Slamet (alm)—meliuk-liukkan keindahan biola dalam lagu pop. Ia antara lain mengiringi Ernie Djohan pada lagu "Hanya Sejenak". Idris Sardi juga banyak membuat musik ilustrasi untuk film sampai-sampai oleh sejumlah media pada zamannya disebut-sebut sebagai "si biola maut".
Era 1970-an, band seperti The Mercy's dan D'lloyd melibatkan biola dalam sejumlah lagu-lagu mereka. Biola bagi mereka masih menjadi instrumen "tamu" dan penggeseknya berstatus pemain tambahan alias additional player. Ada pula band C'Blues dengan Adjie Bandi sebagai violis dan vokalis. Dalam C'Blues, biola cukup berperan, antara lain dalam lagu "Ikhlas". Era 1980 datang Lulu Purwanto lewat kelompok jazz Bhaskara yang sempat manggung di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda.
Era 1990-an gesekan biola Hendri Lamiri masuk ke berbagai lagu. Biola Hendri ada dalam lagu band rock Voodoo lewat lagu "Untuk Dia". Mengalun pula dalam album Klakustik dari KLa yang direkam live di Gedung Kesenian Jakarta tahun 1996. Hendri Lamiri juga mendukung Panbers versi era 1990-2000-an. Ia juga mengisi biola untuk album Chrisye yang digarap Erwin Gutawa. Belakangan muncul violis perempuan, mulai dari Mayllaffayza sampai barisan muda seperti Clarissa Tamara (14) dan Cecilia Young (17).
Biola dengan manisnya pernah memperindah sejumlah lagu pop yang mendunia. Sebut saja antara lain "Dust in the Wind" dari band progresif rock Kansas, asal Negara Bagian Kansas, AS, yang populer pada akhir 1970-an. Permainan biola dari Robby Steinhardt memberi "nyawa" lagu melankolik tersebut.
Pada akhir 1980-an, Mick Jagger di luar Rolling Stones datang dengan "Party Doll". Lagu ini mendapat sentuhan fiddler dari Sean Keane, penggesek asal Dublin yang pernah mendukung band The Chieftains pada era 1960-an. Permainannya sangat unik, mengingatkan gaya bigpipe, alat tiup tradisional Irlandia.
Dari zaman ke zaman biola mengalun di pentas pop. Satu hal dicatat Didiet, audiens kini telah memberikan apresiasi pada keterampilan teknis musisi. Penonton tidak lagi sekadar mencari pesona fisik di panggung.
Friday, June 14, 2013
Steven Spielberg: Krisis Membayangi Industri Film
Los Angeles - Dua sutradara andal, Steven Spielberg dan George Lucas, memperingatkan bahwa industrri film dalam bahaya krisis. Mereka menyatakan akan semakin sulit bagi film kecil untuk bisa tayang di bioskop karena Hollywood saat ini bergantung pada film beranggaran besar.
Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan Hollywood Reporter, Spielberg mengatakan film Lincoln nyaris dibuat untuk jaringan TV HBO karena sulit untuk bisa masuk ke dalam bioskop.
"Jalur untuk masuk ke dalam bioskop semakin mengecil," kata Spielberg seperti dilansir BBC, Jumat (14/6/2013). Karena itu, Spielberg mengusulkan agar ada pengaturan harga tiket bagi sejumlah film.
"Anda harus membayar US$ 25 untuk bisa menonton Iron Man berikutnya, Anda mungkin hanya akan membayar US$ 7 untuk melihat Lincoln," ucap Spielberg.
Lincoln, film yang berkisah empat bulan terakhir masa kehidupan Presiden Lincoln yang diperankan Daniel Day-Lewis ini hanya dirilis secara terbatas di 11 bioskop di Amerika Serikat.
Dengan anggaran hanya sekitar US$ 65 juta, film ini baru mulai laris setelah masuk dalam 12 nominasi Academy Awards 2012 dan meraih dua piala Oscar dalam kategori Aktor Pria Terbaik dan Desain Produksi Terbaik.
Pendapat senada diutarakan George Lucas. Pencipta seri Star Wars ini menambahkan bahwa dia bisa menyepakati adanya model penetapan harga bioskop, di mana sedikit film yang dirilis bisa bertahan lama di bioskop (sampai setahun) dan harga tiket meningkat tergantung dari film tersebut.
Adapun dalam sebuah wawancara dengan BBC Newsbeat, Presiden Asosiasi Distribusi Film yang mewakili studio Hollywood di Inggris, Lord David Puttnam, menyepakati perubahan harus dibuat.
"Setiap film memiliki tantangan pemasaran sendiri dan mencoba untuk membuat satu kebijakan untuk semua, dalam setiap aspek pemasaran, seperti poster, iklan media dan jendela peluang lainnya, semuanya menghadapi kenyataan," papar Lord Puttnam.
"Industri film semestinya tidak menempatkan penghalang buatan antara sebuah film dan penontonnya dan sejumlah metode tidak banyak yang tidak berkelanjutan," imbuh Lord Puttnam.
Lebih jauh dia menjelaskan, industri film semestinya tidak membuat peraturan yang sifatnya tidak menguntungkan bagi produk individu dalam film-film individu.
"Intinya adalah mengoptimalkan pendapatan bagi film tertentu dan entah bagaimana caranya membuat film X harus menderita karena film Y dan Z memiliki jendela sendiri, hal itu sangat tidak masuk akal," urainya.
"Saya ingin semua film dinilai berdasarkan ciri mereka sendiri...Pekerjaan kita adalah untuk memuaskan pelanggan. Saya rasa penonton bisa melihat film yang mereka inginkan di mana pun mereka mau menontonnya," pungkas Puttnam.
Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan Hollywood Reporter, Spielberg mengatakan film Lincoln nyaris dibuat untuk jaringan TV HBO karena sulit untuk bisa masuk ke dalam bioskop.
"Jalur untuk masuk ke dalam bioskop semakin mengecil," kata Spielberg seperti dilansir BBC, Jumat (14/6/2013). Karena itu, Spielberg mengusulkan agar ada pengaturan harga tiket bagi sejumlah film.
"Anda harus membayar US$ 25 untuk bisa menonton Iron Man berikutnya, Anda mungkin hanya akan membayar US$ 7 untuk melihat Lincoln," ucap Spielberg.
Lincoln, film yang berkisah empat bulan terakhir masa kehidupan Presiden Lincoln yang diperankan Daniel Day-Lewis ini hanya dirilis secara terbatas di 11 bioskop di Amerika Serikat.
Dengan anggaran hanya sekitar US$ 65 juta, film ini baru mulai laris setelah masuk dalam 12 nominasi Academy Awards 2012 dan meraih dua piala Oscar dalam kategori Aktor Pria Terbaik dan Desain Produksi Terbaik.
Pendapat senada diutarakan George Lucas. Pencipta seri Star Wars ini menambahkan bahwa dia bisa menyepakati adanya model penetapan harga bioskop, di mana sedikit film yang dirilis bisa bertahan lama di bioskop (sampai setahun) dan harga tiket meningkat tergantung dari film tersebut.
Adapun dalam sebuah wawancara dengan BBC Newsbeat, Presiden Asosiasi Distribusi Film yang mewakili studio Hollywood di Inggris, Lord David Puttnam, menyepakati perubahan harus dibuat.
"Setiap film memiliki tantangan pemasaran sendiri dan mencoba untuk membuat satu kebijakan untuk semua, dalam setiap aspek pemasaran, seperti poster, iklan media dan jendela peluang lainnya, semuanya menghadapi kenyataan," papar Lord Puttnam.
"Industri film semestinya tidak menempatkan penghalang buatan antara sebuah film dan penontonnya dan sejumlah metode tidak banyak yang tidak berkelanjutan," imbuh Lord Puttnam.
Lebih jauh dia menjelaskan, industri film semestinya tidak membuat peraturan yang sifatnya tidak menguntungkan bagi produk individu dalam film-film individu.
"Intinya adalah mengoptimalkan pendapatan bagi film tertentu dan entah bagaimana caranya membuat film X harus menderita karena film Y dan Z memiliki jendela sendiri, hal itu sangat tidak masuk akal," urainya.
"Saya ingin semua film dinilai berdasarkan ciri mereka sendiri...Pekerjaan kita adalah untuk memuaskan pelanggan. Saya rasa penonton bisa melihat film yang mereka inginkan di mana pun mereka mau menontonnya," pungkas Puttnam.
Subscribe to:
Posts (Atom)